The Latest


Kreatifitas Anak
Sederhana saja memperkenalkan seni pada anak, karena pada dasarnya anak-anak menyukai seni sejak dini. Peran Anda sebagai orang tua yang harus aktif menjaga agar seni tersebut tetap lekat dalam keseharian anak. Contoh paling mudah, jangan membatasi anak. Saat tiba masanya anak suka mencorat-coret dinding, jangan lantas Anda menyembunyikan semua pensil dan krayon di rumah. Jika Anda tak rela dinding rumah menjadi kanvas, maka fasilitasilah anak dengan kertas kosong yang banyak. Kemudian, dampingi saat ia mencorat coret. Katakan, “Itu gambar apa? Oh, kamu mau menggambar balon, ya? Sini, Mama kasih contoh menggambar balon. Ada bulatannya, kemudian dikasih tali.”

Biarkan anak mencoba berulang kali, dan jangan menyalahkannya sedikit pun. Jika anak suatu hari memamerkan hasil karyanya kepada Anda, “Berilah pujian, meski hasil karyanya sama sekali tak membuat Anda terkesan!” Kadang, menurut Lisa, orang tua berekspektasi tinggi, berharap anak mampu membuat sesuatu dengan bagus dan sempurna, seperti yang dicontohkan oleh gurunya. “Terlebih jika orang tua menyadari anaknya berbakat, mereka biasanya berharap anaknya mampu membuat hasil karya yang stand out,” kata Lisa. Hasil karya anak sepatutnya diperlakukan sebagai sesuatu yang berharga, misalnya dengan dipuji, dipajang, dan dipamerkan kepada kakek atau nenek. Tidak usah takut rumah menjadi berantakan, Ma. Toh, akan tiba masanya anak akhirnya bosan dan ingin membuang hasil karyanya yang sekarang sudah ia anggap tak oke lagi.

Kakak adek berantem

“Lagi-lagi kamu bikin adikmu menangis. Kenapa kamu selalu kasar kepada adikmu? Adikmu, kan, masih kecil!”
 
Hati-hati dengan teguran seperti itu kepada anak, Ma! Meski Anda memang harus menegur, jangan berikan teguran yang berisi cap negatif kepada anak. Cap sebagai ‘penyebab adik menangis’ atau ‘kasar’ akan membuat anak akhirnya suka mengasari adiknya (walau awalnya ia tidak seperti itu). Itu yang kerap disebutself-fulfilling prophechy, artinya anak benar-benar mengambil peran seperti yang dituduhkan sebagai bagian dari pribadinya.
 
Nah, agar anak tidak terjerat dalam cap negatif, tugas Andalah untuk mendukungnya dalam peran-peran positif. Misalnya, “Kakak yang baik meminjamkan mainannya kepada adiknya. Anak-anak Mama selalu bersedia berbagi dan saling meminjamkan mainan.” Atau, “Seorang kakak pasti tahu cara meminta mainan yang baik kepada adiknya.”
 
Dengan cara itu, anak akan tahu apa yang Mama harapkan dari dirinya, tanpa memberi predikat negatif. Tanpa terkesan memaksakan, secara tak langsung Anda sekaligus telah mengajarkan kepadanya cara yang lebih baik yang seharusnya ia gunakan untuk menghadapi adiknya.
Anak Senang Mengobrol di Kelas
Anak suka mengobrol di kelas dan tidak terlalu memerhatikan saat guru menerangkan pelajaran karena kurang menyadari arti disiplin di sekolah. Selama ini, mungkin ia tidak perlu mentaati disiplin di rumah. Akibatnya, kebiasaan bersikap semaunya itu membuat ia mengobrol terus di kelas, tanpa merasa bersalah. Untuk mengurangi kebiasaannya mengobrol, coba terapkan saran berikut:
  • Buat peraturan di rumah yang disepakati bersama. Misalnya, tidak boleh bicara ketika tiba waktu belajar. Tepati hal itu, dan berikan sanksi bila ia tidak menepati. Tapi, alokasikan waktu khusus agar ia bisa mengobrol sepuasnya dengan Mama dan Papa selama satu atau dua jam sesudah belajar.
  • Perbanyak kesempatan anak bersosialisasi. Bisa jadi, ia mengobrol di kelas karena tidak punya kesempatan banyak bicara dengan teman-teman sebayanya di rumah. Dorong ia lebih banyak bergaul, misalnya dengan mengikuti berbagai kursus, atau bergaul dengan kelompok olahraga. Anda juga bisa mengundang sepupu-sepupunya menginap ketika akhir pekan tiba, agar ia bisa puas mengobrol dengan mereka. Mungkin saja anak mengobrol karena bosan, atau pelajarannya cukup sulit bagi ia. Bila itu yang terjadi, mintalah ia mengisi waktu tidak dengan mengajak teman mengobrol, namun berlatih soal-soal sendiri, sambil tetap memerhatikan apa yang diterangkan guru. Jelaskan bahwa teman-temannya bisa terganggu kalau ia mengajak mereka mengobrol selama pelajaran.

Menurut para guru, keterlibatan orangtua adalah kombinasi dari komitmen dan partisipasi aktif Anda sebagai orangtua bagi anak, yang merupakan bagian dari peran Anda sebagai orangtua murid. Berikut adalah hal-hal kecil yang dapat Anda lakukan sehari-hari di rumah dan di mana saja, dan tetap aktif terlibat dalam pendidikan anak:

Agar Orang Tua Aktif Terlibat dalam Pendidikan Anak

- Menjadi Contoh yang Baik
Perlu Anda ketahui, anak-anak lebih memandang dan meniru perilaku orang dewasa di dekatnya, daripada mendengarkan nasihat kita. Maka, jika kita memberi contoh nyata tentang bagaimana menggunakan sopan santun pada orang lain, mengikuti peraturan dengan tertib, serta makan dengan menu sehat, anak-anak pun akan meniru dengan baik, kok.

-Banyak Mengobrol dengan Anak
Tidakkah Anda ingin memiliki anak yang punya kosakata kaya, bisa berempati pada orang lain dan lingkungan, serta kritis menanggapi berbagai permasalahan?Bicarakan banyak hal dengan mereka, dengarkan pendapatnya, sampaikan pendapat Anda. Ajak anak melihat dari sudut pandang yang berbeda. Menurut Lucky, guru kelas 6, anak yang aktif terlibat dalam diskusi kelas, dan cepat tanggap pada isu yang sedang hangat, biasanya banyak mengobrol dengan orangtuanya.

-Dorong Anak Melakukan yang Terbaik
Sebagai orangtua, tentu kita ingin yang terbaik untuk anak kita. Tunjukkan pada anak bahwa pendidikan itu penting, dan sampaikan bahwa Anda berharap mereka agar bersungguh-sungguh. "Perhatikan juga bagaimana orangtua memberi reward pada hasil kerja anak, apakah fokus pada hasil, atas fokus pada usahanya. Hasilnya bisa berbeda, lho," tambah Ella, guru kelas 2.

-Memberi Kesampatan Anak untuk Berbuat Salah
Tidak apa-apa bila anak Anda tidak mendapat nilai 100. Tak masalah bila sesekali mereka lupa mengerjakan PR-nya. Jangan terlalu berkecil hati bila si juara kelas semester ini nilai rapornya turun. "Anak-anak perlu belajar salah, dan menerima konsekuensi dari kesalahannya. Karena anak yang selalu dibantu orangtua untuk sempurna, justru mudah menyerah ketika menemukan kesulitan," kata Andin, guru kelas 5.

-Mendukung Sekolah
Usahakan untuk selalu mematuhi tata tertib dan kebijakan sekolah, sehingga anak belajar menghargai sekolah dan disiplin. Jika anak Anda dirasa punya masalah atau hambatan di sekolah, segera bicarakan dengan walikelasnya. Percayalah bahwa walikelas tahu apa yang terjadi di kelas.

Bekal Sekolah Sehat Untuk Anak
Sandwich dan makanan wrap (burrito, kebab, dll) kini sedang jadi favorit para mama untuk mengisi bekal makan siang anak karena praktis disiapkan. Tapi, mana yang lebih sehat di antara keduanya? Meski sama-sama merupakan kumpulan sayuran dan protein hewani di antara tumpukan karbohidrat, para ahli mengatakan bahwa seporsi wrap seringkali mengandung lebih banyak bahan makanan olahan dan tinggi kalori dibandingkan sandwich.

Menurut Carrie Jennis, ahli diet dan kesehatan bersertifi kasi di New York City, rata-rata wrap mengandung 210 kalori. Kandungan kalori itu bisa melonjak menjadi 400 kalori, bila wrap diisi dengan salad tuna atau salad plus potongan ayam goreng. Bandingkan dengan setangkup sandwich berisi lengkap yang hanya mengandung sekitar 240 kalori. Hal itu karena ukuran. wrap yang dijual di pasaran cenderung lebih besar ketimbang sandwich. Semakin besar lembaran wrap, akan semakin banyak pula isiannya, dan kalori pun akan semakin bertambah.

Namun perlu Mama ingat juga, sandwich yang sehat adalah yang terbuat dari setangkup roti gandum. Kenapa? Karena anak bisa sekaligus mendapatkan asupan serat, mineral, serta nutrisi dari gandum yang tak ditemukan dalam lembaran wrap.

Peralihan Anak ke Fase Praremaja
Anak perempuan Anda yang biasanya tomboi tiba-tiba saja berubah jadi lebih peduli dengan penampilannya. Ia pun lebih sering minta dibelikan baju baru, bahkan bedak dan lipstick warna merah jambu. Wah!

Di usia praremaja 10-12 tahun, anak memang mulai membandingkan diri dengan teman-temannya. Ia senang meniru yang sedang tren karena khawatir penampilannya kurang keren atau tidak cool. Bantu ia melewati masa-masa ini dengan tip berikut:

Jadilah diri sendiri. Ajak bicara dari hati ke hati. Kini ia sudah memasuki masa praremaja dan harus lebih bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Tekankan bahwa mengikuti tren dan mempercantik diri boleh-boleh saja, tapi tak perlu berlebihan. Apalagi, kalau sampai membuat dirinya tidak nyaman.

Sibukkan diri. Minta ia menekuni minatnya, seperti mengikuti kursus atau bergabung dengan klub-klub yang sesuai dengan hobi. Akan lebih baik bila hobi itu bisa jadi nilai tambah bagi dirinya.

Nikmati pertemanan. Arahkan agar ia berteman dengan teman-teman yang bersikap dan berperilaku positif. Teman yang kurang baik hanya akan membuat ia ikut-ikutan tidak baik karena pasti sulit menolak ajakan mereka, bila sedang bersama-sama.
Melatih Anak Menjadi Penulis
Menulis, bagi saya bukan hanya sekedar hobi atau kegemaran. Menulis adalah bagian dari perjalanan hidup yang ingin saya bagikan juga kepada orang-orang di sekitar saya, termasuk anak tercinta dan murid-murid yang dulu saya ajar. Latar akademik saya memang bukan pendidikan Bahasa atau Sastra. Namun dari pengalaman mengajar bahasa Indonesia di sebuah sekolah dasar dan menjadi instruktur klub menulis kreatif di sekolah yang sama, saya mendapatkan pencerahan bagaimana melatih anak menjadi penulis, bahkan di usia yang sangat muda.
Pertama, sebenarnya kita sudah bisa melatih anak menjadi penulis, bahkan sebelum anak mempunyai atau menguasai kemampuan menulis huruf sekalipun. Lho, kok bisa?
Dasar penting menjadi seorang penulis adalah kekayaan ide dan kemampuan membuat cerita dengan alur yang menarik. A good writer is a good storyteller.
Kemampuan ini sudah bisa diasah sejak anak sudah cukup lancar berbicara, sekitar usia tiga tahun atau tingkat prasekolah. Cara stimulasinya pun tidak rumit. Sebuah kebiasaan sederhana berupa dongeng atau cerita sebelum tidur bisa menjadi metode pelatihan yang patut dicoba.
Pertama, urban mama dapat mencoba modifikasi bedtime stories session dengan menanyakan pendapat anak tentang cerita atau tokoh-tokohnya. Selain itu, minta anak membuat lanjutan cerita sendiri, atau sesekali bergantian dengan anak yang menjadi si pencerita. Kunci suksesnya, berpikirlah terbuka. Beri apresiasi terhadap setiap respons dan ide anak, meskipun ceritanya terdengar konyol atau tidak masuk akal. Tak ada yang punya fantasi menarik dan out of the box selain anak-anak itu sendiri.
Kedua, gunakan gambar sebagai pencetus ide cerita anak. Minta anak untuk bercerita, membentuk alur yang teratur. Sebagai awal, bisa gunakan rumus 5W + 1Hwho (siapa saja karakter/tokoh cerita dan seperti apa sifatnya), when (latar waktu cerita), where (latar tempat cerita), what (masalah atau konflik dalam cerita), why (mengapa masalah tersebut terjadi), dan how (bagaimana masalah dapat diselesaikan). Kenalkan dahulu penceritaan dengan alur maju, supaya anak tidak bingung. Alur maju terdiri atas perkenalan atau pembukaan, adanya konflik atau masalah, klimaks saat konflik mencapai puncaknya (alias bagian paling seru dari cerita), dan penyelesaian di mana konflik terselesaikan.
Ketiga, saat anak sudah bisa fasih bercerita lisan, perkenalkan anak untuk membuat kerangka cerita secara tertulis. Caranya? Gunakan mind mapMind map atau ‘jejaring ide’ adalah diagram kumpulan ide-ide yang dibentuk dari kata-kata kunci, disusun dari kata yang bersifat umum menjadi hal yang lebih detil atau spesifik. Formatnya bisa berupa kumpulan kata, atau gambar.


Mind map dapat digunakan mulai dari menyusun dasar cerita (menggunakan acuan 5W + 1H tadi), pembuatan tokoh dan karakterisasinya, sampai alur cerita (perkenalan, konflik, klimaks, penyelesaian).
Satu hal penting, biasanya anak lebih mudah mengungkapkan pikiran melalui visualisasi, baik gambar maupun konkret. Jadi, selalu gunakan gambar, foto, video, atau barang nyata sebagai alat bantu ajar.
Keempat, perkenalkan anak dengan kata-kata bantu yang menjadi inti cerita. Tunjukkan juga persamaan kata (sinonim) atau kata-kata lain yang dapat menjadi padanannya serta kapan padanan tersebut dapat disematkan dalam kalimat. Di sini kita memperkaya perbendaharaan kata (vocabulary) mereka dan membuat pilihan kata menjadi bervariasi sehingga cerita lebih menarik saat dibaca. Kamus, baik buku ataupun elektronik, baiknya disiapkan untuk membantu anak mencari makna kata. Jika perlu, gunakan juga kamus idiom atau ungkapan, khususnya bagi anak usia sekolah dasar yang sudah mulai mempelajari materi bahasa yang lebih kompleks.
Kelima, berikan batas jumlah kata atau kalimat saat anak belajar menulis cerita. Tujuannya agar anak berlatih untuk mengatur cerita supaya cukup terjelaskan, namun juga tidak dipanjang-panjangkan. Padat dan menarik. Cerita seperti ini yang menggoda minat kita untuk membacanya, bukan?
Pendekatan yang keliru di banyak sekolah adalah anak dikritisi berdasarkan hal teknis dan tata bahasa. Akibatnya, mereka terfokus pada benar-tidaknya penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan kawan-kawan, tanpa menggali ide dan memperkaya pilihan kata.
Oleh karenanya, setelah anak lancar membuat cerita barulah diajarkan hal-hal teknis seperti huruf kapital, tanda baca, struktur kalimat, dan aneka tata bahasa lainnya.
Selain itu, seorang penulis akan menjadi semakin baik kemampuannya saat ia rajin membaca berbagai sumber referensi. Semangati anak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku. Satu buku satu hari. Panjang atau pendek, selesai atau tidak selesai, bukan persoalan. Akan lebih baik lagi jika anak melahap berbagai genre tulisan, baik fiksi maupun non fiksi, dari berbagai jenis penulis, termasuk penulis-penulis muda seusia mereka.
Menjadi seorang penulis andal, perlu proses dan kerja keras, meskipun bukan hal mustahil. Dengan lahirnya banyak penulis cilik dan muda, angin segar kebangkitan sastra Indonesia niscaya akan berhembus sedari kini.
Orangtua selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Kalau dulu sewaktu orangtua kecil hidupnya susah, pastinya  orangtua tidak ingin hidup susahnya terulang juga untuk anak.  Kalau dulu sewaktu kecil orangtua dibebani banyak pekerjaan rumah, kalau bisa anak-anaknya tidak usah mengerjakan apa-apa. Apa benar begitu ya?
Saya termasuk terlambat  belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Selama 18 tahun dari mulai usia 3 bulan sampai kelas 3 SMA, ada pengasuh setia yang selalu menemani hari-hari kami dan yang mengerjakan semuanya di rumah. Dari mulai mengurus lima orang anak, membersihkan rumah, masak, dan lain-lainnya. Kedua orangtua kami  bekerja, pergi pagi-pagi dan baru pulang sore atau malam hari.  Setelah pengasuh pensiun, kerepotan pun dimulai. Saat itu, rumah kami baru saja direnovasi menjadi bertingkat dan rata-rata yang hendak bekerja sebagai asisten rumah tangga sudah takut duluan begitu melihat besarnya rumah dan banyaknya orang di dalamnya. Sebenarnya yang tinggal di rumah kami tidak banyak juga sih, hanya orangtua dan lima orang anak serta kenyataan kalau hanya ada papan penggilasan di rumah.
Masa-masa tidak ada asisten rumah tangga ini membuat kami akhirnya membagi tugas. Yang pulang duluan harus memasak nasi, saat itu yang kebagian tugas memasak nasi (masak nasinya masih pakai panci biasa dan setelahnya dipindahkan ke dandang) adalah adik bungsu yang masih SD, satu-satunya anak lelaki di rumah. Biasanya lauk-pauk sudah disiapkan Ibu sebelum berangkat kerja, atau kalau Ibu tidak sempat memasak, yang pulang duluan setelah si bungsu harus menyiapkan lauk. Biasanya lauk yang mudah-mudah saja, kalau tidak telur ceplok ya telur dadar.
Jadilah masing-masing anggota keluarga memiliki spesialisasi pekerjaan. Saya sebagai anak sulung lebih suka bersih-bersih rumah, menyapu dan mengepel. Sedangkan mencuci piring dan menyetrika baju sebisa mungkin mengerjakannya ditukar dengan adik yang lainnya, karena mencuci piring membuat kulit tangan saya menjadi gatal dan kasar, bahkan pernah telapak tangan kena kutu air. Sementara menyetrika baju entah mengapa sangat sulit dikuasai dan tidak tahan dengan panasnya.
Dengan tangan dan kaki yang kena kutu air, apakah tugas diberhentikan? Tentu saja tidak, tugas tetaplah tugas. Apakah tugas-tugas tersebut bermanfaat di kemudian hari? Saya tidak bisa mengingkarinya, kebiasaan ini ternyata sangat bermanfaat sekali.
Saat berumah tangga, kami mulai  untuk memberikan tugas dan tanggung jawab ke anak-anak saat mereka mulai besar. Dimulai dari membereskan tempat tidur sendiri, menutup jendela dan tirai jendela kamar sendiri. Pelan-pelan, tugas pun ditambah menjadi kami bersama-sama membersihkan rumah saat si teteh libur atau sakit. Biasanya si sulung pilih menyapu dan si tengah pilih mengepel, sementara si bungsu masih bebas tugas. Untuk urusan mencuci, saat sekarang sudah lebih mudah karena ada mesin cuci. Si sulung biasanya juga ditugaskan mencuci baju dan menjemur bajunya bersama si adik tengah.

Saat ini mencuci piring sendiri setelah makan juga sudah dibiasakan. Si sulung sudah tertib, si tengah masih belum mau. Memasuki tahun ini yang sudah menginjak bulan ketiga, mereka mendapat tambahan menyetrika baju harian masing-masing namun menyetrika pakaian seragam sekolah masih ditangani asisten rumah tangga yang datang harian ke rumah.  Karena setiap anak memiliki jadwal sendiri, jadilah mereka sendiri yang mengatur waktu kapan mereka akan menyetrika bajunya. Untuk memasak, yang tengah lebih tertarik sementara yang sulung sebaliknya. Untuk bagian urusan dapur ini kemajuannya masih sedikit, tetapi perlahan-lahan pasti mereka bisa
Sejauh ini kegiatan berbagi tugas sehari-hari di rumah tersebut berjalan lancar. Kami menyebut tugas dan tanggung jawab anak-anak itu sebagai keterampilan hidup. Mudah-mudahan kelak keterampilan ini berguna bagi mereka di masa yang akan datang.

oleh : Fitri anita
Sebagai orangtua, kita tentu ingin anak kita bisa berkembang secara optimal dan memiliki kedekatan emosional yang lekat dengan kita. Banyak orangtua bertanya bagaimana caranya. Jawabannya adalah tentu melalui bermain. Kita sudah mengetahui bahwa bermain memiliki banyak manfaat bagi anak, tidak hanya meningkatkan kemampuan berpikirnya, tetapi juga dapat menjalin kedekatan emosional antara orangtua dengan anak. Kedekatan emosional inilah sebenarnya yang menjadi kunci utama agar anak mau kooperatif atau menurut pada perkataan orangtuanya. Namun demikian, yang banyak menjadi kendala adalah pertama, orangtua belum tahu teknik bermain yang tepat agar bisa mendapatkan manfaat besar dari bermain tersebut. Kedua, kuantitas waktu orangtua yang terbatas sehingga waktu bermain pun jadi kurang berkualitas akibat kuantitas yang tergolong sedikit untuk anak.
Untungnya, saat ini terdapat sebuah teknik bermain, yang dapat memberikan anak manfaat bermain yang kaya sekaligus membangun kedekatan emosional dengan orangtua agar anak mau lebih kooperatif namun dengan kuantitas waktu yang relatif singkat (5-10 menit setiap harinya). Teknik bermain ini disebut dengan TEKNIK PRIDE. Teknik PRIDE merupakah singkatan dari:
P untuk Pujian Berlabel
R untuk Refleksi
I untuk Imitasi
D untuk Deskripsi Perilaku, dan
E untuk Enjoy

Teknik PRIDE ini dilakukan oleh orangtua saat sedang bermain dengan anak. Dengan menerapkan teknik PRIDE saat sedang bermain, anak akan merasa permainan yang ia lakukan memiliki makna yang lebih berarti dibandingkan ketika orangtua bermain biasa bersamanya tanpa menerapkan teknik PRIDE. Oleh karena itu, bermain dengan teknik PRIDE sering diistilahkan sebagai Special Time. Teknik PRIDE sendiri merupakan salah satu bagian dari teknik terapi psikologi yang diciptakan oleh Dr. Sheila Eyeberg, bernama Parent-Child Interaction Therapy (PCIT). Terapi ini diciptakan pertama kali di Amerika sejak 20 tahun yang lalu dan sudah terbukti efektifitasnya melalui berbagai penelitian ilmiah. Terapi ini memiliki manfaat utama membuat anak lebih mau bekerja sama dan mengikuti arahan orangtua, tanpa pukulan, tanpa bentakan serta, pastinya, tanpa drama.

Mari kita lihat bagaimana cara melakukan teknik PRIDE saat special time, serta manfaat dari masing-masing teknik tersebut. Sebelum, melakukan special time, ingatlah prinsip utama dari special time: ANAK YANG MEMIMPIN PERMAINAN, artinya, anak yang menentukan mau bermain apa, apa yang akan ia lakukan terhadap mainannya dan tidak ada salah atau benar dalam permainan ini.
1. Pujian Berlabel
  • Memuji perilaku anak untuk perilaku yang positif.
  • Pujian berlabel berarti anak dipuji secara spesifik, seperti “Pilihan warna kamu bagus banget!”, “Pintar Adik sudah pelan-pelan bikin garisnya”, “Mama suka sekali Adik bangun legonya dengan tenang”, “Terima kasih ya, sudah bermain dengan tenang”.
  • Berbeda dengan pujian tidak berlabel, seperti “Bagus”, “Pintar”, “Hebat”.
  • Pujian berlabel lebih efektif karena anak tahu perilaku apa secara spesifik yang disukai oleh orangtuanya dan bisa meningkatkan perilaku tersebut.
  • Pujian berlabel bahkan bisa meningkatkan self-esteem anak atau rasa keberhargaan dirinya.
2. Refleksi
  • Merefleksikan berarti mengulangi apa yang anak katakan. Anak mengatakan, “Aku pakai crayon biru”. Orangtua merefleksi dengan mengatakan, ”Ya, kamu lagi pakai krayon biru”.
  • Dengan melakukan ini, anak akan merasa ia memimpin permainan
  • Menunjukkan pada anak bahwa kita benar-benar sedang mendengarkannya.
  • Meningkatkan kemampuan anak dalam berbicara dan berbahasa
  • Terasa aneh saat dilakukan pertama kalinya, tapi akan menjadi natural setelah beberapa kali dilakukan.
3. Imitasi
  • Mengimitasi berarti melakukan hal yang sama dengan apa yang anak lakukan, seperti ikut menggambar pohon ketika anak juga sedang menggambar pohon.
  • Perlu diingat, saat mengimitasi permainan anak, hindari keinginan untuk berkompetisi atau membuat lebih bagus dari anak. Cukup lakukan imitasi sama dengan level kemampuan anak.
  • Membantu orangtua untuk terbiasa bermain sesuai dengan level perkembangan anak.
  • Menghindarkan orangtua dari terbaginya perhatian ke hal lain saat sedang special time dengan anak. Misalnya keinginan untuk melihat HP,TV, dll.
4. Deskripsi Perilaku
  • Mendeskripsikan apa yang sedang lakukan terhadap mainannya, contoh: anak sedang mewarnai, orangtua mengatakan, “Adik lagi warnai pakai krayon hitam”, anak sedang membangun lego, orangtua mengatakan, “Adik lagi pasang lego warna merah”, anak dalam keadaan hampir selesai menggambar matahari, orangtua mengatakan, “Adik lagi menggambar matahari”.
  • Teknik ini bisa mengajarkan anak suatu konsep dan kosakata baru.
  • Sangat baik dilakukan untuk anak dengan ADHD karena membantu mereka melakukan perencanaan pada perilakunya (yang biasanya impulsif), sambil orangtua mendeskripsikan perilakunya.
  • Anak mendapat pesan bahwa orangtua sedang memberikan perhatian penuh padanya.
  • Di bawah ini adalah contoh gambar yang dihasilkan oleh seorang anak. Pada gambar sebelah kiri, seorang anak didampingi tanpa menggunakan teknik Deskripsi Perilaku. Sedangkan gambar sebelah kanan, anak tersebut didampingi dengan menggunakan teknik Deskripsi Perilaku. 
    5. E untuk Enjoy
    • Enjoy berarti kita menunjukkan rasa senang ketika melakukan bermain special time dengan anak.
    • Enjoy bisa ditunjukkan orangtua dengan menunjukkan nada suara yang seperti menyukasi kegiatan anak, tertawa, sentuhan positif,
    • Teknik ini bermanfaat untuk memberi pesan pada anak bahwa kita sangat menikmati menghabiskan waktu bersama anak.
    • Meningkatkan kehangatan dalam hubungan dengan anak
    • Membuat special time memiliki makna yang dalam bagi anak.
    Nah, bagaimana ? Semoga mudah ya mempraktikkannya. Menurut seorang psikolog keluarga, Dr. Laura Markham dalam bukunya Peaceful Parent, Happy Kids, anak yang secara rutin mendapatkan special time menunjukkan perubahan perilaku yang cukup siginifikan antara lain anak jadi tidak terlalu nee­dy dan orangtua bisa punya waktu sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Lakukan special time ini secara rutin 5-10 menit setiap hari. Pasanglah alarm sebagai penanda bagi anak bahwa special time sudah berakhir. Diharapkan dengan dilakukan secara rutin setiap hari, orangtua jadi terbiasa melakukan teknik PRIDE, tidak hanya saat special time, tetapi juga saat berinteraksi dengan anak sehari-hari.
theurbanmama.com
3 Perilaku Unik Anak
Makin bertambah usia anak, makin lucu dan unik perilakunya. Apakah anak memiliki 3 perilaku unik berikut ini? Simak cara menanganinya.
1. Tanya: Mengapa anak 15 bulan saya senang membawa kunci atau balok mainan ketika berjalan di sekitar
rumah?
 
Kemungkinannya adalah ia baru saja piawai berjalan, sehingga aktivitas ini menjadi tantangan fisik yang besar berikutnya: Berjalan sambil membawa sesuatu secara bersamaan. “Ketika anak belajar berjalan, yang hanya bisa dilakukannya adalah menyeimbangkan tubuhnya. Sekarang, ia bisa membungkuk, mengambil sesuatu tanpa terjatuh, dan membawa sesuatu ke seberang kamar. Ini merupakan kemajuan yang fantastis dari keterampilan motoriknya,” kata Alice Sterling Honig, Ph.D., pakar perkembangan anak di Syracuse University.

2. Tanya: Anak selalu mengulangi kata. Misalnya, saya bilang, “Yuk, makan!” Ia akan menyanyikan, “Makan, makan, makan!” Apakah ini normal?

Ini bukan saja normal, namun merupakan tahapan perkembangan lain menuju lancer berbicara. “Antara usia 15 – 18 bulan, mengulangi suatu kata lagi dan lagi adalah cara si batita memahami bagaimana kata tersebut digunakan,” kata Jacqueline Haines, executive director dari Gesell Institute for Human Development, New Haven. “Anak usia ini belajar menguasai kata melalui pengulangan, bersamaan dengan menikmati irama dan pola kata-kata. Itu sebabnya mengapa ia sangat suka lagu dan buku yang berima. Anak akan belajar sesuatu saat Anda membacakan buku favorit atau menyanyikan lagu favoritnya. Ia tahu, lho, begitu Anda melupakan suatu kata,” katanya lagi.

3. Tanya: Mengapa anak 18 bulan saya selalu menaruh sesuatu di toilet atau memainkan tisu jika memungkinkan?

Apa, sih, yang bisa lebih menyenangkan? Ya, toilet dan gulungan tisu cenderung membuat anak menjadi si peneliti sekaligus si nakal. “Saya menyebut masa 18 – 24 bulan ini sebagai tahapan ‘apa yang akan terjadi bila,” katanya. “Ketika anak membuka gulungantisu, seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Ia jadi benar-benar sangat tertarik pada timbunan tisu yang ada. Dan, begitu selesai menggulung, ia baru menyadari kalau asyik juga memutar-mutar gulungan tersebut. Bagaimana dengan toiletnya? Batita bias bereksperimen dengan melihat seberapa tinggi air akan naik kalau ia memasukkan sesuatu ke dalamnya. Atau, ia begitu terpesona—atau mungkin sedikit takut— melihat berbagai benda akan menghilang begitu toilet disiram.”

Tentu saja, Anda ingin menghentikan aksi anak sebelum kamar mandi banjir, namun Anda tidak ingin mematikan rasa ingin tahunya. Apa solusinya? “Alihkan minatnya untuk bereksperimen pada sesuatu yang lebih aman,” saran Honig. Misalnya, tanyakan berapa coretan yang bisa dilakukan untuk memenuhi 1 lembar tisu. Anda tetap bisa menjawab tahapan ‘apa yang akan terjadi bila’ dengan cara yang lebih aman.

www.parenting.co.id
Momen Penting di Tahun Pertama Anak

Satu tahun pertama adalah masa-masa yang menentukan perkembangan bayi Anda kelak. Berbagai kejadian penting menandai pertumbuhannya yang sangat pesat di usia ini. Meski kecepatan perkembangan setiap anak berbeda, perilaku menonjol berikut biasanya akan Anda temui dalam tahun pertama pertumbuhannya:
  • 0-3 bulan: Ketajaman visualnya meningkat. Ia akan membalas tatapan Anda, ketika Anda memeluk atau menatapnya.
  • 3-4 bulan: Ia bisa melihat hingga ke seberang ruangan dengan cukup jelas. Biasanya, ia sudah lebih mudah ditenangkan saat rewel, karena banyak hal di sekeliling yang membuat ia tertarik.
  • 4-6 bulan: Kontrol bayi terhadap tubuhnya sudah meningkat. Ia mulai menggunakan tangan dan kakinya untuk sedikit ‘bersenang-senang’. Misalnya, membuat gerakan menendang.
  • 6-9 bulan: Ia mulai duduk dan merangkak. Sambil duduk, ia akan mengamati dan meraih apa pun yang bisa ia genggam dengan tangannya. Setelah bosan, ia akan merangkak untuk mengeksplorasi keadaan sekelilingnya.
  • 9-12 bulan: Berdiri dan belajar berjalan akan menjadi tantangan menarik baginya. Ia bisa memungut benda yang jatuh dengan ibu jari dan telunjuk. Ia bahkan sengaja bermain-main dengan mainan yang ia jatuhkan, memungutnya, lalu menjatuhkan kembali mainan itu.
Pastikan saja Anda lebih berhati-hati menjaganya, Ma. Juga pastikan ia berada di lingkungan yang aman untuk bermain dan bereksplorasi.

Tips Mengajari Anak Kenali Anggota Tubuh
Di usia ini, anak mulai memerhatikan bagian-bagian tubuhnya dan tubuh Anda, terutama dari segi ukuran. Ia pun mulai menyadari, dirinya adalah pribadi yang terpisah dari Anda, dan memiliki ciri-ciri fisik serupa, tapi tidak sama dengan orang lain. Nah, bagaimana Anda membuat ia mengenal bagian tubuhnya secara lebih baik?

Gunakan lagu. Lewat lagu, anak akan lebih cepat dan mudah mengingat nama bagian tubuhnya, misalnya lagu “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki.”

Ajak bercermin. Di depan cermin, tunjukkan bagian-bagian tubuhnya, sambil menyebutkan namanya.

Hindari reaksi berlebihan, bila anak mengamati alat kelaminnya. Baginya, bagian tubuh yang satu itu sama menariknya dengan bagian tubuh lain, dan bukan sesuatu yang istimewa.

Tips Mengenali Alergi Anak Sejak Dini
Indonesia belum memiliki data epidemiologi penyakit alergi pada anak secara nasional. Padahal, menurut International Study of Asthma and Allergies in Chilhood, prevalensi alergi anak semakin meningkat, termasuk di Indonesia.

Menurut Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), M.Kes, Ketua Unit Kerja Koordinasi Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, pendataan harus dilakukan seputar alergi anak seperti jumlah, jenis alergi, pada usia berapa umumnya alergi pertama muncul, dsb. Hal ini untuk memudahkan dokter menemukan penyebab umum alergi dan cara mengatasinya, agar anak-anak yang menderita alergi bisa tumbuh optimal.

World Allergy Week merupakan program tahunan inisiasi World Allergy Organization (WAO) dalam rangka meningkatkan pemahaman mengenai alergi dan penyakit lainnya yang terkait. Lalu, digagaslah kampanye 'Semua Dari Ingin Tau' pada April 2015 lalu, sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman alergi sejak dini, agar alergi tidak menghambat potensi anak.

Tujuan kampanye ini terdiri dari 3 langkah: 'Tau – Cegah & Atasi – Sebar'.
LANGKAH 1: TAU
Langkah pertama untuk mencegah dan mengatasi alergi anak adalah dengan terlebih
dahulu mengenali gejala alergi anak.

LANGKAH 2: CEGAH & ATASI
Edukasi dan pemahaman mengenai pencegahan alergi dan solusinya berperan penting.

Menurut DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K), Ketua Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI – RSCM, CEGAH terdiri dari 6 kunci utama:
- Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
- Menghindari paparan rokok selama hamil dan setelah bayi lahir.
- Selama hamil dan menyusui, mama tidak menghindari makanan yang sering menimbulkan alergi seperti telur, kacang-kacangan, ikan dan seafood, serta susu sapi.
- Pengenalan makanan padat dimulai pada usia 6 bulan.
- Tidak ada penundaan pemberian telur, kacang, ikan, dan makanan lainnya ketika si kecil mulai mendapat pengenalan makanan padat.
- Pemberian susu formula protein terhidrolisat parsial (P-HP) dan protein terhidrolisat penuh untuk bayi-bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI.

Kemudian, ATASI untuk bayi dan anak yang mendapatkan susu formula dan ternyata alergi terhadap protein susu sapi, sebagai penggantinya bisa diberikan formula hidrolisat penuh, formula asam amino atau formula isolat protein kedelai (soya).

LANGKAH 3: SEBAR
Penyebarluasan informasi agar sedini mungkin dapat dilakukan pencegahan dan penanganan yang tepat.
Tips Mengenali Fase Kritis Demam Berdarah (DB) pada Anak

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit yang disebarkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti--yang sudah terinfeksi virus dengue. (Sumber: World Health Organization, Fact Sheet No. 117)

Infeksi virus dengue pada manusia terbagi menjadi dua jenis; Demam Dengue (RINGAN) yang diikuti pendarahan (mimisan, warna kehitaman pada muntah dan kotoran anak, menstruasi yang tidak wajar pada anak perempuan) ataupun tidak, dan Demam Berdarah Dengue (BERAT) yang diikuti dengan sindrom syok dengue ataupun tidak.

Satu hal yang perlu Anda ingat, semua orang yang mengalami DBD akan melewati fase kritis. Fase kritis adalah di mana suhu badan naik-turun, dehidrasi (oleh karena asupan cairan dan jumlah urin sedikit), dan hasil laboratorium yang menunjukkan jumlah leukosit (sel darah putih) dan trombosit (sel darah merah) rendah.

Berikut adalah tanda-tanda bila anak mengalami fase kritis:

> Suhu tubuh mendadak turun

> Gelisah

> Tangan dan kakinya mendingin

> Detak nadinya melemah

> Tekanan darahnya menurun

Bila Anda menemukan hal ini pada anak, segera bawa ke rumah sakit untuk diperiksa dan dirawat. Jangan sampai terlambat ya.

3 Cara Membangunkan Anak
Berlalu sudah masa-masa anak  membangunkan Anda di pagi hari. Sekarang, Anda yang justru menghabiskan (hampir) seluruh energi untuk membuat dia bangun dari tempat tidur. Ada apa, sih? Pola tidur si praremaja memang berbeda dengan orang dewasa dan anak-anak yang lebih kecil. Jam internal tubuh mereka sebenarnya mengatakan untuk tidur nanti malam saja dan tidur lebih lama di pagi hari. (Jadi, kenapa juga sekolahnya lebih pagi dari adiknya yang masuk TK?)

Dan, ini caranya untuk membangunkan anak:

- Atur ulang alarm Ketimbang membiarkan alarm berbunyi pas waktunya bagi anak untuk keluar pintu, atur ulang alarm dengan cara memainkan musik favoritnya sekitar 15 menit sebelum dia bangun. Hal ini akan membantunya untuk lebih tenang menjalani hari.

- Berikan alasan yang tepat untuk bangun ‘Sogok’ dia dengan nasi goreng daging kesukaannya (selera makannya juga terus meningkat) atau aturlah dia berangkat bareng dengan sahabatnya (teman juga besar perannya dalam ‘urusan’ tidur anak!).

- Jadikan bangun pagi sebagai tanggung jawabnya Jelaskan bahwa Anda menyadari kalau ia sudah cukup besar untuk bangun sendiri, sehingga Anda akan memanggilnya hanya sekali saja. Lalu, tetaplah konsisten dengan hal itu. Bagaimana pun, banyak anak yang senang dianggap mandiri. Sementara itu, anak lain belajar dengan cepat bahwa mereka akan sangat kehilangan sekolah ketika tidak tiba tepat waktu.
Urutan Tumbuh Gigi pada Anak
Anak sudah mulai mulai tumbuh giginya dan agak rewel. Bagaimana cara merawatnya?

Umumnya, gigi susu tumbuh pada saat anak berusia 6 bulan. Meski begitu,  kadang bisa tumbuh kurang atau lebih dari usia 6 bulan. Dan, urutan tumbuhnya gigi geligi adalah:

1. Gigi seri satu pada saat bayi berusia 6 - 7 bulan. Fungsinya? Memotong makanan.

2. Gigi seri dua di usia 7 – 9 bulan. Berfungsi memotong makanan.
3. Gigi taring di usia 16 - 18 bulan. Fungsinya adalah mencabik makanan.
4. Gigi geraham pertama di usia 12 - 14 bulan. Berfungsi  menghaluskan makanan.
5. Gigi gerham dua di usia 20 - 24 bulan. Fungsinya adalah menghaluskan makanan.
 
Nah, tumbuhnya gigi susu sangat bervariasi. Kadang lebih cepat, kadang bisa pula lebih lambat. Yang penting, Anda harus selalu memperhatikan kebersihan mulut dan gigi anak. Bila gigi mau tumbuh, biasanya bayi rewel karena rasa gatal dan rasa nyeri yang timbul. Sebenarnya, hal ini terjadi karena gigi merobek gusi pada saat mau tumbuh. Bagaimana caranya mengatasi kerewelan bayi pada saat giginya tumbuh? Anda bisa melakukan beberapa hal, seperti mengusap-usap gusi anak dengan handuk dingin, memberi mainan untuk digigit (salah satunya adalah teether yang sudah dimasukkan ke dalam kulkas terlebih dulu.

Nah, sensasi dingin dari teether akan memberi rasa nyaman pada bayi), memberi finger food dalam ukuran yang mudah digenggamnya dan mudah lumer di mulut bayi, atau obat khusus dalam bentuk salep bayi tumbuh gigi yang tersedia di apotik. Jika Anda ingin kesehatan gigi dan gusi si kecil optimal, berikan makanan yg bernutrisi, seperti strawberry, brokoli, jamur shitake, apel, wortel, seledri, jeruk, nanas, keju, dan kiwi. Kapan diberikannya? Tergantung usia dan tingkat sensitivitasnya.

Lalu, untuk gigi yang baru tumbuh, Anda bisa membersihkannya dengan kain kasa atau lap lembut yang basah. Sebenarnya, gigi yang baru tumbuh bisa disikat dengan sikat gigi khusus bayi jika anak sudah mengerti dan tidak memberontak. Jangan gunakan pasta gigi. Cukup basahi sikat gigi dan jangan lupa membersihkan bagian dalam gigi. Kapan dibawa ke dokter gigi? Ketika gigi baru tumbuh, anak sudah bisa dibawa ke dokter gigi.

Jadi, ia bisa familiar alias tidak takut dengan dokter gigi dan jangan membawanya hanya saat sakit gigi. Biasakan memeriksakan gigi anak secara teratur. Tip untuk orang tua? Hindari memberi anak makanan yang manis, kunjungi dokter gigi secara rutin, harus rajin menyikat gigi anak, serta perhatikan asupan nutrisi anak.